WNA Tiongkok yang Diduga Serang TNI Saat Latihan Ditahan Imigrasi

WNA Tiongkok yang Diduga Serang TNI Saat Latihan Ditaham Imigrasi
foto WNA Cina saat diamankan di kantor Imigrasi Ketapang pada Selasa (16/12) pasca diduga menyerang anggota TNI sedang latihan do PT SRM Tumbang Titi.
Ketapang (Borneo Tribun) - Kantor Imigrasi Kelas II Non-TPI Ketapang menahan sementara 29 Warga Negara Asing (WNA) asal China yang diduga melakukan insiden penyerangan terhadap anggota TNI yang sedang latihan di lokasi tambang emas PT Sultan Rafli Mandiri (SRM) di Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Kepala Seksi Teknologi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian (Kasi Tikim) Kantor Imigrasi Ketapang, Ida Bagus Putu Widia Kusuma, mengatakan jumlah WNA yang diamankan semula 26 orang. 

Namun, dua di antaranya sempat menjalani perawatan medis sebelum kembali ke kantor Imigrasi.

"Awalnya 26 orang. Dua sempat sakit dan dibawa ke rumah sakit, setelah itu kembali lagi ke Imigrasi. Saat ini totalnya menjadi 29 orang," kata Ida Bagus saat, Rabu (17/12/2025).

Para WNA tersebut tiba di Kantor Imigrasi Ketapang pada Selasa (16/12) setelah dievakuasi oleh aparat TNI dari lokasi tambang, menyusul insiden penyerangan yang terjadi sebelumnya.

"Dari sisi keimigrasian, kami masih melakukan pemeriksaan. Masih mencari benang merahnya, melakukan klarifikasi, dan pendalaman. Saat ini belum bisa disimpulkan (motifnya)," kata Ida Bagus. 

Ida Bagus menambahkan, penanganan terhadap para WNA tersebut kini telah diambil alih oleh Subdirektorat Pengawasan Keimigrasian pusat. Pihak Imigrasi Ketapang masih menunggu arahan lebih lanjut dari Direktorat Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (Ditwasdakim) pusat.

"Kami tidak diberikan kewenangan untuk menyampaikan hasil pemeriksaan secara detail karena penanganannya sudah diambil alih pusat," katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa kasus tersebut telah dilaporkan ke Polda Kalimantan Barat, sehingga Imigrasi Ketapang masih menunggu perkembangan koordinasi lintas instansi.

Menurut data Imigrasi Ketapang, secara keseluruhan terdapat 34 Tenaga Kerja Asing (TKA) yang beraktivitas di lingkungan PT SRM. Dari jumlah tersebut, 29 orang kini berada di Kantor Imigrasi Ketapang untuk menjalani pemeriksaan keimigrasian.

Hingga Rabu (17/12), pemeriksaan keimigrasian belum dapat diselesaikan lantaran pihak manajemen PT SRM belum memenuhi undangan untuk hadir ke kantor Imigrasi Ketapang.

"Sejak kemarin hingga hari ini, 29 WNA tersebut masih berada di kantor Imigrasi Ketapang," pungkasnya.

Insiden bermula ketika prajurit Zipur 6/SD menerima laporan dari petugas keamanan PT SRM terkait adanya drone yang terbang di sekitar area latihan. Prajurit kemudian melakukan penelusuran untuk mencari operator drone tersebut.

Di lokasi, mereka mendapati empat WNA asal Beijing yang mengoperasikan pesawat tanpa awak itu. Keempat WNA tersebut sempat dimintai keterangan. 

Namun, situasi berubah ketika 11 WNA lain tiba-tiba muncul dan melakukan penyerangan terhadap prajurit TNI. Para pelaku diduga menggunakan senjata tajam berupa parang, airsoft gun, serta satu alat kejut listrik. 

Akibat penyerangan itu, kerugian yang tercatat bersifat materiil. Satu unit mobil perusahaan jenis Toyota Hilux mengalami kerusakan berat, serta satu sepeda motor Honda Vario milik karyawan PT SRM rusak. 

Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XII/Tanjungpura Kolonel Infanteri Yusub Dody Sandra mengatakan, penyerangan terjadi sekitar pukul 15.40 WIB di area milik PT SRM. 

"Benar telah terjadi aksi penyerangan terhadap empat prajurit TNI yang sedang melaksanakan latihan dalam satuan," kata Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XII/Tanjungpura Kolonel Infanteri Yusub Dody Sandra dalam keterangan tertulis, Selasa, 16 Desember 2025.

Penulis: Muzahidin.
Tinggalkan Komentar anda Tentang Berita ini