![]() |
| Menu MBG dirapel yang diterima oleh siswa SDN 18 Sungai Besar MHS. [borneotribun/muzahidin] |
Ketapang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali jadi perbincangan publik. Kali ini, sorotan datang dari penyaluran MBG selama masa libur sekolah Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang dilakukan dengan sistem rapel atau diberikan sekaligus untuk konsumsi tiga hari ke depan.
Salah satu sekolah yang menerima MBG dengan sistem ini adalah SDN 18 di Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang. Paket makanan yang diterima siswa terdiri dari roti tawar, telur, buah apel, dan pisang. Seluruh menu tersebut dibagikan sekaligus untuk beberapa hari dan dikemas menggunakan kantong plastik kresek putih.
Penggunaan kantong plastik ini pun menuai kritik. Pasalnya, plastik kresek putih telah dilarang digunakan di wilayah Ketapang, sesuai dengan Surat Edaran Bupati Ketapang Nomor 31 Tahun 2025. Aturan tersebut melarang toko dan pelaku usaha ritel menggunakan kantong plastik sekali pakai demi menjaga lingkungan.
![]() |
| Nursiri saat melakukan pengawasan ke SDN penerima MBG. [Borneotribun/Muzahidin] |
Menu MBG tersebut diketahui berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sungai Besar. Namun, kondisi kemasan dan isi menu dinilai kurang memenuhi standar kesehatan dan prinsip gizi seimbang. Banyak pihak menilai, sistem rapel justru berpotensi menimbulkan risiko, terutama jika makanan tidak disimpan dengan cara yang benar.
Anggota DPRD Ketapang, Nursiri, ikut angkat bicara. Ia menilai penyaluran MBG selama masa libur sekolah harus diawasi lebih ketat. Menurutnya, dapur MBG atau SPPG perlu memastikan bahwa makanan yang dibagikan benar-benar aman dan layak konsumsi.
Penilaian tersebut disampaikan Nursiri setelah melakukan pemantauan langsung ke sekolah penerima MBG pada Selasa, 23 Desember 2025. Ia mengaku menemukan sejumlah kejanggalan di lapangan.
“Penyampaian menu MBG dari dapur ke sekolah tidak jelas dan perlu evaluasi serius. Apalagi MBG yang saya temukan saat libur sekolah, isinya sangat kurang layak. Saya khawatir kalau dikonsumsi bisa berdampak pada kesehatan siswa. Ini bisa menjadi masalah nasional,” ujarnya.
Meski demikian, Nursiri menegaskan bahwa program MBG merupakan program pemerintah yang sangat baik dan patut didukung. Tujuan utamanya jelas, yaitu meningkatkan kesehatan dan asupan gizi anak-anak Indonesia. Namun, pelaksanaannya di lapangan harus sesuai standar agar tidak menimbulkan masalah baru.
Ia juga mempertanyakan kelayakan menu MBG yang diberikan dengan sistem rapel. Menurutnya, roti yang mengandung bahan pengawet serta buah yang tidak melalui proses pembersihan dengan baik berpotensi menimbulkan risiko kesehatan jika dikonsumsi dalam kondisi tertentu.
“Program dari Bapak Presiden ini niatnya sangat mulia untuk menyehatkan generasi muda. Tapi saya tekankan, khusus MBG di masa libur sekolah, pola pendistribusiannya harus dievaluasi agar tidak menimbulkan dampak negatif,” tegas Nursiri.

![Menu MBG Dirapel Saat Libur Sekolah, Siswa SD di Ketapang Terima Makanan Tiga Hari Dibungkus Plastik, DPRD Soroti Standar Gizi Nursiri saat melakukan pengawasan ke SDN penerima MBG. [Borneotribun/Muzahidin]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjWUc87fHbQdp4mnitImUxoObdGFGjlGcAucyn7R5P8GvC9VT2roy5hO-1om3XPnfW54d8Zr7aAYOVnH-p9GCBeU5pVz6gU5GVxaQQw6QIqVzjtLH2ZSniMM8XEk6QIfJ7q2nuHXWdO6FPBHhkGvK7rk14tfKTW8LhFyGWskq_JuasTddhyphenhyphen5odYSUz-8Kiy/w640-h438-rw/menu-mbg-dirapel-saat-libur-sekolah-0.jpeg)